Senin, 08 Juli 2013

KONSEP-KONSEP IPS (GEOGRAFI, SEJARAH, EKONOMI, SOSIOLOGI, ANTROPOLOGI) DALAM KONTEKS LOKAL, NASIONAL, DAN GLOBAL.



I.       KONSEP-KONSEP IPS (GEOGRAFI, SEJARAH, EKONOMI, SOSIOLOGI, ANTROPOLOGI) DALAM KONTEKS LOKAL, NASIONAL, DAN GLOBAL.

A.    Menumbuhkan Kepekaan Melalui Belajar IPS
Kehidupan social masyarakat dewasa ini mulai meninggalkan norma social yang pernah hidup dan berkembang pada generasi tua waktu itu. Nilai-nilai hidup yang penuh rasa kebersamaan, rasa simpati dan empati kepada orang lain, rasa  saling menghormati dan rasa toleransi sekarang ini sudah mulai memudar. Pergaulan di masyarakat antara yang muda dan yang tua sudah mulai meninggalkan etika pergaulan. Perilaku hidup yang sudah menonjolkan sikap individual dan kompetitif lebih banyak di tampilkan dari pada perilaku yang penuh kebersamaan dan toleransi. Agar hal tersebut tidak terjadi berlarut-larut nantinya maka peserta didik perlu di bekali konsep dasar ilmu social.
B.     Konsep Geografi Dalam Konteks Local, Nasional, dan Global
Secara harfiah geografi berarti lukisan atau tulisan tentang bumi. Menurut Richard harshorne, geografi berkenaaan dengan penyajian deskripsi sifat permukaan bumi yang bervariasi secara tepat, berurutan dan rasional.sedangkan menurut Panetia ad Hoc gerografi meyatakan bahwa goegrafi menjelaskan bagaimana subsistem lingkungan alam terorganisasikan di permukaan bumi, dan bagaimana  manusia tersebar di permukaaan bumi, itu dalam hubungannya dengan gejala alam dengan sesama manusia
Dalam geografi terjadi proses social ekonomi dalam bentuk interaksi antar penduduk dan saling ketergantungan dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari.
C.    Konsep Sejarah Dalam Konteks Local, Nasional, dan Global
Konsep sejarah suatu peristiwa, membawa citra kepada kita tentang suatu pengalaman masa lampau yang dapat di kaji hari ini, untuk memprediksi kejadian-kejadian yang akan datang. Selanjutnya dari sudut pandang sejarah dalam konteks global tentang tokoh-tokoh, bangunan-bangunan, perang, pertemuan internasional dan peristiwa-peristiwa bersejarah memiliki dampak luas terhadap tatanan kehidupan global, dapat dimunculkan dalam pendidikan sebagai acuan transpormasi budaya serta pengembangan kualitas SDM generasi muda untuk memasuki kehidupan global dimasa yang akan datang.
  1. Konsep ekonomi dalam konteks Lokal, Nasional, dan Global
Menurut H.W Andt dan Gerardo P Sicat, ilmu ekonomi adalah suatu studi iliah yang mengkaji bagaimana orang perorang dan kelompok masyarakat menentukn  pilihan.
Bedasarkan konsep tersebut di atas, pembahasa ilmu ekonomi menyangkut beberapa aspek meliputi :
  1. menentukan pilihan
  2. keinginan yang tidak terbatas
  3. persediaan sumber daya terbatas bahkan ada yag langka
  4. kegunaan alternative sumber daya
  5. penggunaan hari ini dan hari esok.

  1. Konsep Sosiologo,  dalam Konteks  Lokal, Nasional, dan   Global
1.      Pengertian  Sosiologi
Secara sadar atau tidak sadar manusia membutuhkan manusia lain ,ia tidak dapat secara mutlak  hidup menyendiri  tanpa ada kontok dengan manusia lain .manusia merupakan  anggota masyarakat selama ia hidup ,dan selama itu pula ia mengadakan kontak dengan manusia lain ., sehingga terjadilah  interpersonsl relstion .  Dalam mengadakan kontaknya dengan manusia lain,biasanya  ia mempunyai maksud tertentu ,dan tingkah lakunya itu disebut kebudayaan.
Jadi apa apa yang dimaksud  dengan sosiologi itu sebenarnya ? Menurut Pitirin Sorokin (1928) sosiologi sdslsh ilmu ysng mempelajari hubungan dan pengaruh timbale balik antara aneka  macam gejala-gejala social (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama,keluarga dangan moral , hukum dangan ekonomi ,gerak masyarakat dengan  politik,dan sebagainya).jadi jelas  bahwa sosiologi merupakan  ilmu social yang objeknya adalah masyarakat ,dan merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendari , dengan cirri-ciri utamanya adalah sebagai berikut:
 a.   Sosiologi bersifat empirik didasarkan pada observasi terhadap  kenyataan dan hasilnya tidak     spekulatif.
 b.    Sosiologi teoritis,artinya berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil observasi.abstraksi  itu merupakan kerangka dari unsur-unsur yang ter susun secara logis untuk menjelaskan hubungan sebab akibat hingga menjadi teori.
c   Sosiologi bersifat nonetis,artinya tidak mempersoalkan masalah kebaikan dan keburukan fakta,tetapi tujuanya adalah menjelaskan fakta secara analitis.
Secara singkat  dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masysrakat dalam keseluruhanya danhubungan-hubungan antara orang –orang dalam masyarakat .
  1. Ruang Lingkup Sosiologi
             Hubungan dengan ruang lingkup,walaupundalamsosiologi ada banyak pengkhusan atau spesialisasiyang berhubungan dengan bagian dari kehidupan social,dimana sosilogi dapatdi pandang sebai satu keseluruhandari klelompok –kelompok ilmu sosial,tetapi di pandang dari ruang lingkupnya,sosiologi mempunyai cirri-ciri tertentu.Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama,  merupakan spesialisasi yang objeknya atau ruang lingkupnya adalah menemukan hubunga nantara disiplin-disiplin lain dan member keterangan tantang sifat umum relasi-relasi sosial .Jadi ruang lingkup sosiologi adalah :
1.      Sosilogo berusaha membuat klasifikasi tipe-tipe/bentuk-bentuk relasi sosial;
2.      Sosiologi berusaha menemukan relasi faktor antara factor –faktor atau bagian-bagian dari kehidupan sosial ,misalnya relasi antara  factor politik dan ekonomi ,antara moral dan agama.dalam agama menjelajahi ruang lingkupnya ,sosiologi harus mengadakan hubungan dengan ilmu-ilmu lainya.seperti antropologi budaya, sejarah.dan ilmu-ilmu lainya .namun objeknya tetap menentukan relasi-relasi sebagai keseluruhan. 
Kedua,  Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang bersifat kategorik, tidak normative. Artinya bahwa sosiologi membatasi pada persoalan “apa” dan “mengapa”, tetapi tidak pada persoalan “bagaimana seharusnya”. Mengenai pertanyaan sebagaimana seharusnya, hakekatnya berhububgan dengan persoalan nilai atau sosiologi tidak boleh menilai.
Ketiga,   Sosiologi adalah ilmu pengetahuan “murni” bukan ilmu yang diterapkan (applied science), artinya tujuan langsung sosiologi adalah memperoleh pengetahuan tentang masyarakat manusia, bukan pengetahuan itu. Sebagai contohnya, jika terjadi pembunuhan, para sosiolg tidak boleh memfonis siapa pembunuhnya, tetapi hanya menyelidiki” mengapa sampai terjadi pembunuhan”. Hal di luar itu akan ditangani oleh ahli lain yaitu hukum.
Keempat,  Sosiologi adalah ilmu pengetahuan abstak, artinya ia lebih tertarik pada bentuk-bentuk dan pola-pola  yang diambil dari suatu pola. Contoh, masalah perang atau revolusi sebagai fenomena social, sebagai proses yang terdapat terulang kembali terjadi dalam sejarah, dan sebagai bentuk-bentuk konflik social.
Kelima,  Sosiologi  adalah ilmu  pengetahuan yang mencari generasi. Artinya sosiologi mencari prinsip-prinsip umum tentang antaraksi  dan  kumpulan manusia, tentang sifat, bentuk, isi dan stuktur kelompok-kelompok sosial dan masyarakat pada umumnya. Contoh, bangsa belanda pernah menyerang dan menguasai Indonesia, yang diselidiki  sosiologi bukan masalah sejarahnya, tetapi penyerangan itu merupakan pengintensifan solidaritas intern kelompok.
          Seperti telah dijelaskan di atas bahwa objek sosiologi adalah masyarakat. Kemudian apa yang disebut masyarakat itu?. Ada beberapa definisi tangang masyarakat, misalnya Ralph Linton (Soerjono Soekamto : 1990), menyatakan bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja  bersama yang cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka itu sebagai suatu kesatuan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Sedangkan Selo Soemardjan, menyatakan masyarakat adalah  orang – orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
          Dari definisi tentang masyarakat tersebut, walaupun berbeda tapi intinya sama. Bahwa dalam maysarakat  mengandung beberapa unsure, sebagai berikut; (1)  manusia yang hidup bersama, minimalnya dua orang hidup bersama; (2) bercampur untuk waktu yang lama; (3) mereka sadar bahwa mereka adalah satu kesatuan;( 4) mereka merupakan satu sisten yang hidup bersam, setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat antara satu dengan lainnya, system kehidupan bersama tersebut akan melahirkan kebudayaan. Apabila kita cermati secara seksama, maka eksistensi masyarakat  timbulnya dimungkinkan  oleh interaksi social. Park dan Burgess (Nursid Sumaatmadja; 1986) adalah ahli sosiologi, menganalisis interaksi social sebagai proses social yang dapatdiklasifikasikan dalam enam kategori, yaitu; komonikasi, konflik, kompetisi, akomodasi, asimilasi, dan kooperasi.  
          Interaksi social merupakan dasar dari adaptasi, sebab sifat biologisnya yang khusus, dimana manusia tidak dapat hidup menyendiri dan tergantung pada orang lain. Sedangkan yang menjadi dasar interaksi  social adalah komonikasi, yaitu proses penerusan dan penerimaan dari stimulus simbolis dengan cara bercakap-cakap gerakan, atau tanda-tanda lain.
          Komunikasi antara individu-individu itu penting karena untuk menyusun organisasi masyarakat. Apabila kontak komunikasi dengan individu itu menumbulkan pertentangan, disebut konflik. Jika kekuatan berhadap-hadapan dalam konflik tersebut bersifat interpersonal, disebut kompetisi/persaingan. Di dalam suasana konflik akhirnya orang dapat menyelesaikannya, walaupun secara paksa  dan menyadari bahwa tidak ada cara lain kecuali  mengadakan perdamaian, prose situ disebut akomodasi.
          Salah satu proses yang timbul dari interaksi social adalah asimilasai, yaitu kelompok-kelompok social yang mempunyai kebiasaan atau kebudayaan yang berbeda dengan  kelompok lainnya, saling berinteraksi sehingga membentuk kebudayaan baru. Bentuk interaksi yang sangat penting bagi pemeliharaan masyarakat adalah kooperasi, yaitu suatu proses di mana dua orang atau lebih  berkimpul dengan bermaksud untuk melakukan suatu tugas yang sama. Kooperasi dapat dikaitkan sebagai landasan organisasi maysarakat.
          Motif interaksi social yang terjadi, sangat beragam, bias bermotif ekonomi, budaya, politik, dan juga motifnya bias bersifat majemuk. Motif interaksi biasanya dilandasi oleh suatu tujuan tertentu. Motif  dan tujuan dari pihak-pihak yang berinteraksi bisa sama bisa beda, misalnya interaksi  antara produsen dan konsumen motifnya ekonomi. Tujuannya disuatu pihak menghasilkan dan menjual, di pihak lain memiliki dan membeli.       
3.      Konsep Sosiologi dalam Konteks Lokal, Nasional dan Global
          Sebagai dampak kemajuan, penerapan, dan pemanfaatan Iptek di bidang transportasi dan komonikasi, interaksi social ini makin intensif dan makin meluas. Berkembangnya jaringan jalan, baik jalan darat, laut dan udara interaksi sosialnya semakin cepat dan meluas. Interaksi tersebut telah dapat menembus batas local, nasional, internasional dan global.
          Kemajuan, penerapan dan pemenfaatan media elektronik seperti; radio, TV, Telpon, Internet telah makin mengintensifkan interaksi social tersebut, walaupun tidak secara langsung. Interaksi  social baik secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai media yang makin intensif serta makin luas, membawa dampak perubahan social. Kemajuan social yang makin luas  membawa dampak perubahan social. Kemajuan social yang berdampak terhadap opini, kecerdasan, nalar dan wawasan manusia yang mengalaminya.
          Pengenalan Iptek yang terbawa oleh satu pihak kemudian  diterima oleh pihak lain melalui berbagai media, berdampak luas terhadap tatanan social, baik materil maupun non materil. Pakaian,  makanan, peralatan, tidak hanya dikenal  dan digunakan oleh masyarakat tertentu, tetapi telah memasuki segala lapisan masyarakat secara local, nasional, maupun global.
          Tatanan nonmaterial, nilai, dan norma juga mengalami pergeseran, misalnya bersalaman, tepuk punggung tegur sapa ala Eropa, samapai pada berciuman antara keluarga, antar teman dan sebagainya. Jenis permainan dan olah raga yang terdahulu termasuk tradisional, sekarang berkembang tidak hanya dinegerinya sendiri tetapi menyebar di segala penjuru dunia, misalnya kesenian gamelan, kungfu, pencak silat, dan teak wondo.   
          Pertukaran pemuda, pelajar dan pertandingan olahraga, prtemuan pramuka tingkat daerah, nasional, serta antar Negara merukan interaksi yang meluas, peristiwa yang demikian itu tidak hanya terjadi interaksi manusia saja, melainkan juga menjadi pertemuan berbagai aspek social yang terbawa oleh kelompok-kelompok social tersebut. Hal seperti itu akan berdampak local, nasional dan global, misalnya yang berdampak positif pertukaran pengalaman. Kemampuan dan nilai. Dari interaksi social itu pula dapat mnyadarkan manusia agar menghargai satu sama lain, menyadarkan kita manusia bahwa manusia itu sama harkat dan derajatnya di sisi Tuhan. Perbedaan itu tidak hanya ada pada kemapuan dan pengusaan Iptek oleh masing-masing Negara. 
          Interaksi social baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media, di satu sisi membawa pperubahan-perubahan positif bagi masyarakat. Tapi disisi lain harus diwaspadai, misalnya sebagai akibat interaksi global terjadi pergaulan bebas,penyakit AIDS, mabuk-mabukkan, sadism dan kriminalitas. Masalah social yang mengelobal ini merupakan penghancuran yang relative cepat meracuni generasi muda. Masalah social ini perlu diwaspadai oleh semua pihak, orang tua, guru, dan individu itu sendiri. Oleh karena itu, untuk membendung oleh dampak negative tersebut kita harus memperbaiki akhlak, mental dan moral yang kuat pada masing-masing individu.
          Sebagai akibat interaksi social yang semakin  intensif sampai ke tingkat global menunjukkan perubahan social di masyarakat sampai ke proses moderenisasi. Perubahan dan kemajuan yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan, sedangkan yang berdampak negative harus kita waspadai, jika perlu kita cari cara pemecahaanya.
F. Konsep Antropologi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
1. Pengertian Antropologi
          Secara harfiah Antropologi adalah ilmu tentang manusia, yaitu ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk masyarakat. Artinya sebagai manusia dapat ditinjau dari dua segi, yaitu sudut biologi dan sudut social budaya. Namun dalam peninjauannya, tidak melihat manusia sebagai makhluk biologis dan makhluk sosio budaya secara terpisah-pisah, melainkan secara keseluruhan yaitusebagai satu kesatuan fenomena biososial. Antoropologi khususnya antropologi budaya yang oleh Koenconingrat (1990) dikatakan sebagai ilmi pengganti budaya, merupakan studi tentang manusia dengan kebudayaannya. Sedangkan oleh E. A. Hoebel (Fairchiid, H.P. dkk, 1982 : 12) didefinisikan sebagai studi tentang manusia dengan pekerjaannya, lebih menitikberatkan pada kebudayaan sebagai hasil pengembangan akal pikiran manusia. Antropologi merupakan ilmu yang masih baru, oleh karena itu banyak yang mendefinisikan antropologi itu berbeda-beda sesuai dengan daerahnya. Menurut Koencorodiningrat (2002 : 1 – 6) , dalam perkembangannya antropologi dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu:
Fase Pertama (sebelum tahun 1800),  merupakan kisah perjalanan atau laporan-laporan yang merupakan bahan etnologi atau deskripsi tentang bangsa diluar eropa. Misalnya Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau, dengan adat istiadat yang berbeda-beda, dengan adanya bahan etnografi akan memudahkan untuk menguasai kebudayaan setempat.
Fase kedua (kira-kira pertengahan abat ke-19), timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat. Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berkembang secara lambat (evolusi) dalam jangka waktu yang sangat lama, atau dari dalam bentuk yang belum beradab sampai pada bentuk masyarakat yang tinggi. Berdasar cara berpikir tersebut, maka bangsa di dunia dapat dsigolongkan  menurut berbagai tingkat evolusi. Timbullah bebrbagai  karangan tertentu tentang keanekaragaman kebudayaan di dunia ke dalam tingkat evolusi tertentu. Selain itutimbul pula kalangan yang hendak meneliti sejarah penyebaran kebudayaan bangsa-bangsa di dunia dengan tujuan untuk mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive serta penyebaran kebudayaannya.
Fase ketiga (Permulaan abad ke-20), pada saat itu ilmu antropologi dirasa penting,  karena bangsa Eropa melancarkan jajahannya diluar Eropa. Sehingga antropologi menjadi ilmu praktis untuk penjajah. Berdasarkan catatan yang telah ada dapat diketahui mengenai adat istiadat daerah yang akan dijajah. Seperti halnya Indonesia, dengan catatan deskripsi dapat diketahui adat istiadat setiap daerah. Hal ini akan memudahkan penjajah untuk mengadaptasikan diri dengan penduduk setempat.
Fase Keempat (Sesudah kira-kira tahun 1930) , antropologi mengalami perkembangan luas, karena bertambahnya  pengetahuan dan ketajaman metode ilmiyahnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya kesadaran bagi penduduk yang terjajah dan ingin adanya pengukuhan yang sama. Selain itu adanya perubahan pada masyarakat non Eropa sebagai akibat pengaruh kebudayaan eropa yang masuk ke Indonesia. Sejak itulah penyelidikan antropologi tidak hanya tentang masyarakat primitive melainkan juga masyarakat kompleks. Di Indonesia misalnya, dengan adanya antropologi akan memudahkan mengadakan pembangunan masyarakat pedesaan. Sebab untuk membangun moderenisasi kita harus dapat menyesuaikan dengan adat istiadat setempat.
Mengenai tujuan antropologi pada fase keempat ini adalah :
  1. Akademikal, yaitu mencapai  pengertian  tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya.
  2. Praktis, yaitu mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat guna membagun masyarakat suku bangsa.
          Antropologi merupakan ilmu yang relative masih muda yang baru berumur kira-kira satu abad saja, menyebabkan terjadinya kesimpangsiuran cara menggunakan ilmu ini, dan menjadi pokok perbedaan paham antara berbagai aliran yang ada dalam kalangan ahli itu sendiri. Secara kasar aliran-aliran  dalam antropologi dapat digolongkan berdasarkan atas berbagai universitas di beberapa Negara di mana ilmu antropologi berkembang.   
  1. Di Amerika, Antropologi telah berkembang secara luas, artinya onjek penelitiannya sama yang terdapat pada fase keempat, tetapi tidak melupakan fase-fase sebelumnya.
  2. Di Inggris pada mulanya memang ilmu antropologi digunakan untuk kepentingan penjajahan. Namun setelah daerah jajahannya merdeka, para sarjana Inggris memperhatikan berbagai masalah  yang lebih luas mengenai  dasar-dsar mayarakat dan kebudayaan. Metode antropologi yang dikembangkan  di Amerika Serikat telah mulai mempengaruhi  berbagai lapangan penelitian para sarjana Antropologi Inggris.
  3. Di  Eropa tengah,  ilmu antropologi masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa  untuk mencapai pengertian tentang sejarah penyebaran dari kebudayann-kebudayaan dari seluruh umat manusia di dunia. Jadi sifat antropologinya masih bersifat pada fase kedua. Namun demikian pengaruh  antropologi di Amerika juga sudah mulai berpengaruh pada berbagai ahli antropologi generasi muda di jerman Barat dan Swiss.
  4. Di Eropa Utara, antropologi menitikberatkan pada penyelidikan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa, terutama bangsa Eskimo. Para sarjana Skandinavia juga menggunakan metode antropologi yangdikembangkan di Amerika Serikat.
  5. Di Uni Soviet, Ilmu antropologi menunjukkan bidang praktis, yaitu melakukan kegiatan besar dalam hal menggumpulkan bahan tentang aneka ragam bentuk masyarakat dan kebudayaan dari suku-suku bangsa di Uni Soviet. Dengan demikian ilmu antropologi  dapat dijadikan alat untuk  menggembangkan saling pengertian  antara suku-suku bangsa yang beraneka ragam tersebut.
  6. Di Negara-negara bekas jajahan Inggis, terutama di india metode-metode ilmu antropologi dapat pengaruh besar dari aliran Inggris. Di India antropologi digunakan  untuk hubungan praktis untuk mencapai pengertian soal-soal kehidupan masyarakat yang hetrogen. Satu hal yang menarik di India antropologi dan sosiologi  bukan lagi sebagai dua ilmu yang berbeda, tetapi hanya berupa dua golongan metode saja yang menjadi satu, sebagai ilmu social yang baru. Di india masalah nasional dan kota-kota sangat erat kaitannya dengan masalah-masalah pedesaan.   
  7. Di Indonesia, sekarang baru mulai mengembangkan ilmu antropologi Indonesia yang khusus, artinya diselaraskan dengan masalah kemasyarakatan di Indonesia.
1.      Ruang Lingkup Antropologi
           Ruang lingkup antropolongi itu sangat luas, perhatian ilmu antropologi ditujukan kepada sifat-sifat khusus badani dan cara-cara produksi, tradisi-tradisi, dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan  hidup lainnya. Dilihat dari sudut antropologi, manusia  dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu sudut biologi dan sudut sosio-budaya. Cara peninjauannya tidak terpisah-pisah melainkan holistic, artinya merupakan satu kesatuan fenomena bio-sosial.      
Di Amerika Serikat, Antropologi telah berkembang lhingga ruang lingkup dan batas lapangan penyelidikannya paling sedikit mempunyai lima masalah penelitian khusus, yaitu;
  1. Sejarah asal dan perkembangan manusia secara biologis.
  2. Sejarah terjadinya aneka ragam makhluk manusia, dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya.
  3. Sejarah asal, perkembangan dan penyebaran anekaragam bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia.
  4. Perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka ragam kebudayaan manusia di seluruh dunia.
  5. Mengenai asas-asas kebudayan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh dunia.
          Demikin luasnya ruang lingkup objek antropologi hingga dirasakan adanya sub disiplin dari antropologi. Secara contoh, Negara Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil  bersatu dalam satu pemerintahan. Hal itu tidak berarti semua pulau mempunyai cirri yang sama baik ditinjau dari segi budaya, agama, bahasa dan adat istiadatnya.
          Sebaliknya jika kita cermati bahwa setiap suku  bangsa mempunyai cirri khas tersendiri. Justru dari keanekaragaman itulah ada satu tali pengikat kuat yang merasa bahwa kita merupakan satu kesatuan  yang disebut dengan bangsa Indonesia. Oleh karena itu di bawah lambing Negara kita yaitu burung garuda tertera kalimat “Bhenika Tunggal Ika” yang berbeda-beda tetapi satu jua. Yang berbeda di sini adalah cara hidupnya atau kebudayaannya.
  1. Konsep Antropologi dalam Konteks Lokal, Nasional dan Global
          Pada hakikatnya perkembangan aspek kehidupan apapun yang mengurus mulai dari tingkat local sampai tingkat global, dasarnya terletak pada budaya dengan kebudayaan yang menjadi milik otentik umat manusia. Makhluk hidup, selain manusia, tidak mungkin dapat mengubah tatanan kehidupannya sampai mengglobal. Disinilah letak keunikan umat manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Cobalah anda amati dan hayati perkembangan serta kemajuan yang ada disekitar anda. Bangunan dari gubuk, rumah darurat, rumah permanen sampai gedung bertingkat pencakar langit. Jalan, mulai jalan setapak, jalan desa, jalan kabupaten, jalan propensi sampai jalan tol yang dilengkapi jembatan layang. Kendaraan, mulai dari yang didorong/ditarik oleh manusia, ditarik oleh hewan, kendaraan bermotor sampai kendaraan luar angkasa, pensil, pena, ballpoint, computer, faksimil sampai ke internet. Semua itu tidak tidak lain adalah hasil pengembangan akal pikiran manusia atau hasil pengembangan budaya sebagai perkembangan kebudayaan.
          Dengan memperhatikan dan menyimak apa yang telah diilustrasikan berkenan dengan perkembangan aspek-aspek kehidupan manusia yang juga aspek-aspek kebudayaannya, kita telah melihat persepektif kebudayaan, menganalisis perkembangan kebudayaan dari masa yang lalu, hari ini dan kecendrungannya di masa yang akan dating. Salah satunya yang terus berkembang, baik perkembangan, penerapan, serta  pemanfaatannya adalah Iptek. Hanya saja di sini wajib kita sadari bahwa Iptek itu adalah akal pikiran manusia, sehingga jangan terjadi manusia seolah-olah dikendalikan Iptek. Justru sebaliknya manusialah yang mengendalikan Iptek. Dengan pengembangan dan peningkatan daya piker yang aktif dan kritis, kita menghindarkan diri dari ketergantungan terhadap Iptek yang hakikatnya adalah produk budaya, yang seharusnya kita manusia mengendalikannya. Disinilah uniknya budaya dan disini pula persepektif antropologi.
          Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari interaksi social yang dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat bersangkutan. Suasana kondusif terselenggaranya pendidikan sangan ditentukan oleh ketentraman, jaminan peraturan, kepemimpinan, dan pemerintahan yang stabil (politik), sehingga terdapat serta tumbuh ketenangan hati dan kesadaran dalam diri anggota masyarakat tadi (psikologi). Hal tersebut merupakan contoh dan ilustrasi dari  yang dapat Anda dan kita semua hayati dalam diri masing-masing serta dalam kenyataan hidup di masyarakat dari waktu ke waktu.
          Dalam kehidupan umat manusia yang makin terbuka, persilangan kebudayaan, bukan hanya merupakan tantangan, melainkan sudah menjadi kebutuhan. Mengapa demikian?. Kenyataannya Negara-negara di dunia termasuk di dalamya Indonesia secara sengaja  melakukan pertunjukan kesenian keliling dunia, pertukaran pelajar antar Negara, belum lagi pertemuan internasional berbagai pakar dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam suasana yang demikian, manusia yang menjadi dutanya berinteraksi, sedangkan aspek budaya yang dibawa dan dibawakannya bercampur baur. Dalam kondidi yang demikian, disadari atau tidak, terjadi persilangan unsure-unsur kebudayaan.
          Demikianlah proses globalisasi budaya yang secara sengaja dilakukan oleh kelompok-kelompok manusia, dan bahwa oleh Negara-negara di dunia ini. Namun satu hal, seperti telah dikemukan terdahulu, kewaspadaan terhadap dampak negative harus menjadi kepedulian kita semua. Ditinjau dari konteks budaya dan antropologi, hal itulah yang wajib menjadi pengangan kita bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar